2008/07/06

Diabetes

nternational Diabetes Institute Australia memperkirakan lebih dari 180 juta orang di seluruh dunia terkena diabetes. Menurut Sidartawan Soegondo SpPD KEMD, Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) di Jakarta, Senin lalu, kebanyakan penderita terkena diabetes melitus (DM) tipe-2. Diperkirakan 12 juta orang atau 5-7
persen penduduk Indonesia menyandang DM, penyakit
kronis ditandai oleh gula darah melebihi kadar normal.

Ini bisa disebabkan tidak berfungsinya insulin sebagaimana biasanya. Bisa juga disebabkan jumlah insulin lebih sedikit dari keadaan normal. Keadaan ini akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Jika kelainan itu tidak segera terdiagnosa sejak dini, risikonya tinggi. Komplikasi bisa menyebabkan penyakit jantung, gangguan ginjal, kebutaan dan amputasi.

Faktor utama diabetes adalah keturunan, kegemukan, pola hidup tak sehat. Jika tidak menjaga pola makan dan menjadi gemuk ditambah ada faktor keturunan, seseorang bakal terserang diabetes yang tidak bisa sembuh seumur hidupnya. Penyebab lainnya adalah perubahan gaya hidup, jenis asupan makanan ke dalam tubuh, kegiatan jasmani berkurang hingga peningkatan populasi usia lanjut.

Satu penelitian menemukan sekitar 300 juta orang berisiko tinggi mengalami impaired glucose tolerance (gangguan toleransi glukosa). Ini berarti 10 persen populasi dunia terkena diabetes atau berisiko tinggi terhadap diabetes.

Laporan terbaru IDF/WHO menyebutkan, jumlah pasien di dunia telah meningkat secara mengkhawatirkan dan biaya pengendaliannya menjadi tiga kali lipat. Meski satu dari dua orang yang menderita diabetes melitus belum terdiagnosa.

Satu studi menemukan, sedikitnya 30 persen penderita
DM dengan gejala klinik retinopati mengalami kebutaan.
Lalu 10 persen dari jumlah itu terpaksa tidak memiliki
pilihan lain kecuali menjalani amputasi tungkai kaki, terutama penderita berusia lebih dari 50 tahun. Risiko
kematian DM 4-5 kali dibanding nondiabetesi, dengan kematian 50 persennya menderita jantung koroner dan 30 persen gagal ginjal. Di Jakarta, ada peningkatan prevalansi DM sangat signifikan dari 1,7 persen (1982) menjadi 5,7 persen (1993) dan 12,8 persen (2001).

Hasil penelitian Diabetes Atlas tahun 2000 (IDF/WHO) memperkirakan penduduk Indonesia di atas 20 tahun sebesar 125 juta orang dengan asumsi pravalensi menderita diabetes melitus sebesar 4,6 persen.

Dari jumlah itu akan didapat angka 5,6 juta orang saat
ini dan tahun 2020 nanti akan meningkat menjadi 8,2 juta orang.

Masalah jadi begitu pelik, saat ini dokter spesialis diabetes di Indonesia hanya 40 orang yaitu di Jakarta 10 dokter, Surabaya (6), Bandung (3), Malang (3), Palembang (1), Medan (3), Yogya (2), Semarang (3), Manado (1), Makassar (2), dan Bali (1). Di Papua, Maluku, dan Kalimantan praktis tidak ada ahlinya.

Dianjurkan orang melakukan general check-up secara teratur setiap 4-5 tahun, guna menghindari DM. Pemeriksaan kadar gula perlu untuk mengetahui status kondisi diabetes, selain memperhatikan pola makan serta berolahraga. Jika hasil pemeriksaan lab menunjukkan ada diabetes, pemakaian obat
antihiperglikemik oral atau insulin harus diperhatikan. Upaya “pengelolaan” harus dilakukan secara terpadu sesuai kebutuhan setiap penderita.

“Segeralah ke dokter untuk mendapat informasi benar
tentang diabetes, dan bagaimana cara menanganinya. Itu
merupakan kunci menghambat laju pertumbuhan penyakit
DM,” katanya.

Orang terkena DM tidak dapat dikembalikan kepada kondisi normal, dan pengobatannya harus tepat serta effektif agar tampak sehat meski menderita DM. Diabetesi disarankan siap dengan alat ukur kada gula dalam darah, khususnya One Touch Ultra yang diproduksi Johnson & Johnson. Alat ini dapat diperoleh di apotek dengan harga Rp 1,2 juta.

DM merupakan kelainan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas. Klasifikasi penyakit ini telah disempurnakan
sejak 1985 menjadi tiga, yaitu insulin dependent type atau DM tipe-1, noninsulin dependent type atau DM tipe-2, dan malnutrition related diabetes melitus (DM tipe-3).

DM tipe-2 menjadi 2 subkelompok yaitu obese dan non-obese. Sedangkan DM tipe-3 terbagi dua subkelompok yakni fibrocalculous pancreatic diabetes (FCPD) meliputi kasus-kasus dengan klasifikasi pankreas serta protein deficient pancreatic diabetes (PDPD) meliputi kasus-kasus tanpa klasifikasi pankreas.

Pada DM tipe-1, pankreas mengalami kerusakan sehingga
tidak dapat lagi mensekresi hormon insulin. Karena itu, terapinya hanya insulin dan pasien dengan tipe ini hidupnya sangat tergantung pada insulin.

Sedangkan DM tipe-2, terjadi kelainan heterogen yang ditandai oleh kadar glukosa yang tinggi, keadaan ini disebut Hiperglikemi. Disebut hiperglikemi terjadi akibat defisiensi dan resistensi insulin. (baskoro)

Tidak ada komentar:

News Update

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Anda mau membeli atau mencari Buku?


Masukkan Code ini K1-39C35C-1
kutukutubuku.com
Anda malas datang langsung ke toko buku pada saat anda ingin membeli buku,gak usah khawatir anda bisa langsung pesan buku yang anda inginkan hanya dengan melalui website http://kutukutubuku.com.Anda cukup mengisi identitas diri anda dan buku yang anda inginkan.

Berita IT dan Artikel

News Liputan6

Computer Science

Gallery

  Gallery (Friend's 4ever )